
Iseng-iseng kemarin saya membaca lagi mengenai riwayat seorang Teilhard de Chardin yang sebelumnya saya ketahui sedikit dari pelajaran filsafat yang saya dapat. Bukunya yang sangat fenomenal yaitu The Phenomenon of Man. Sedikit biografi tentang beliau, beliau adalah seorang filsuf berkebangsaan Prancis yang sangat religius, tergabung dalam komunitas religius katolik pada waktu itu yang disebut 'Society of Jesus.' Namun yang menarik adalah bahwa beliau juga merupakan seorang peneliti di bidang palaentologi, penemuannya yang sangat terkenal adalah manusia purba Sinanthropus Pekinensis, menjadi penemuan yang memperkuat Darwinisme.
Sedikit demi sedikit membaca, lama-lama saya jadi semakin antusias. Beliau banyak melakukan penyelidikan terhadap alam semesta melalui penemuan-penemuannya di bidang palaentologi serta berpegang teguh pula pada ajaran gereja, dari sana beliau berusaha untuk mendamaikan antara iman dan ilmu pengetahuan. Bertolak dari hakikat manusia sebagai makhluk yang paling 'sadar' di dalam sejarah semesta, beliau menyelidiki alam semesta bagaimana hubungan antara bagian-bagiannya, maksud pokok dan susunannya, sampai menemukan kedudukan manusia dalam alam semesta yang telah tertata rapi dalam penciptaan. Manusia sebagai makhluk yang paling 'sadar' akan 'bergerak' menuju tingkat kesadaran yang tertinggi terhadap Allah sebagai creator.
Tinjauan evolusi sebagai proses yang mengarah kepada peningkatan kompleksitas. Dari sel hewan menjadi makhluk yang berpikir, proses konsentrasi psikis mengarah pada peningkatan kesadaran. Munculnya Homo sapiens menandai awal dari sebuah zaman baru, yaitu manusia sebagai makhluk berpikir dan memiliki awal kesadaran terhadap kehadiran akan Yang Mutlak. Dalam pandangan beliau, evolusi akan berujung pada Titik Omega, semacam kesadaran tertinggi, terhadap dirinya sebagai akhir dari suatu proses.
Bumi dan segala isinya selalu mengalami perkembangan. Evolusi dunia bukanlah sebuah hipotesis namun suatu realita yang menjadi dasar bagi iman. Yang sering terjadi adalah, ketika teori evolusi sudah diterima, peran Allah sebagai pencipta akan dilupakan, tetapi tidak demikian karena Allah adalah 'Jiwa Evolusi' yang mengarahkan alam semesta untuk membentuk diri dan berkembang. Pemikiran-pemikirannya dianggap menjadi momok yang sangat berbahaya terhadap Gereja. Perlawanan didapatkan dari lingkungan Gereja Katolik pada waktu itu, oleh karenanya jawaban-jawaban dari pertanyaan tersebut tidak dicarinya dalam ajaran gereja, sebab pikiran konservatif kaku dari Gereja pada masa itu beranggapan bahwa bumi dari awal adalah sama seperti sekarang dan sampai pada akhirnya nanti adalah tetap.
Bagi saya mempelajari mengenai kehidupan dan alam semesta merupakan hal yang menarik, sebab antara iman dan kehidupan di dunia merupakan kedua hal yang saling berkaitan, iman menjadi inspirasi saya untuk dapat melakukan apa yang terbaik untuk bumi ini. Bumi adalah tempat kudus meskipun ada anggapan bahwa bumi tempat yang penuh dosa. Alam semesta dan segala isinya merupakan manifestasi dari kemuliaan Allah dan Kasih Allah yang tak terperi. Bukankah Yesus hadir agar kemuliaan Allah dinyatakan di dalam bumi ini? Kutipan dari Teilhard bahwa manusia dapat menjadi pengikut Kristus apabila dia menjadi manusia seutuhnya. Manusia dapat menjadi seutuhnya apabila ia memeluk bumi. Iman kepada Kristus tidak dapat dipisahkan dengan iman kepada dunia. Roh Kudus yang akan memampukan kita untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus. Terpujilah Allah.