
Di tengah kepenatan akan pekerjaan, penelitian, dan perkuliahan, malah membuatku semakin terdorong untuk sharing melalui sebuah tulisan. Ya, jujur saja pada dasarnya aku sangat suka menulis dibanding melakukan riset yang sangat menyita waktu, pikiran, tenaga, dan membuatku terisolasi. Namun, bersyukur terhadap apa yang menjadi amanah Sang Gusti, dan mengamini bahwa tidak ada di dunia ini yang terjadi secara kebetulan!
Sang Gusti dengan segala rancangan-Nya membuat dunia ini dan segala isinya tidak terjadi secara kebetulan. Pada awalnya terbesit sebuah opini dalam benakku, ‘ah bisa saja dunia dan kehidupan terjadi secara kebetulan, toh sekarang manusia berbicara mengenai asal mula alam semesta dalam kaitan dengan gerakan energi dan kombinasi antara ruang, waktu dan kemungkinan yang dimanifestasikan berdasarkan data faktual’
Yuri Gagarin, Kosmonot Soviet, memberikan komentar setelah menginjakkan kakinya di bulan “Saya tidak melihat Allah di luar sana” Mungkin komentar tersebut dapat tepat, kita tidak lagi hidup di sebuah zaman di mana keberadaan Allah diterima begitu saja. Allah tidak dapat kita temukan dalam tabung reaksi eksperimen atau bahkan teleskop. Kepercayaan terhadap Allah timbul secara emosional dan ilmu pengetahuan tidak memberikan bukti akan eksistensi Allah. Bertolak dari asumsi ‘sesuatu’ pada hakikatnya memiliki eksistensi. Jika ‘sesuatu’ itu memiliki eksistensi, ‘sesuatu’ itu mungkin dapat bersifat kekal, diciptakan oleh ‘sesuatu’ yang kekal, atau tercipta dengan sendirinya. Apabila kita menjawab dengan alternatif pertama atau kedua, maka kita mengakui ada sesuatu yang kekal, yaitu bisa dunia atau kreator-nya, alternatif terakhir pastilah menjadi pilihan mereka yang skeptis terhadap eksistensi Allah.
Eksistensi Allah tetap dipertanyakan, mungkinkah bahwa alam semesta terjadi secara kebetulan atau dengan sendirinya? Faktor kebetulan hanyalah abstraksi matematis yang tidak memiliki eksistensi yang riil, sebab yang dinamakan kebetulan itu bukanlah apa-apa, sehingga ia pun tidak dapat melakukan apapun. Faktor kebetulan adalah tidak memiliki kekuatan untuk menghasilkan apapun. Faktor kebetulan juga tidak memiliki tujuan apapun!
Andai manusia adalah akibat dari peristiwa kosmos dan nasib manusia akan berakhir, bagaimana mungkin manusia memiliki arti pada saat ini? sehingga bisa ditarik konklusi kehidupan saya adalah merupakan kisah yang diceritakan oleh seseorang yang bodoh. Andai pula alam dan kehidupan diciptakan tidak memiliki asal mula dan tujuan, bagaimana mungkin kehidupan saya dikatakan lebih berarti?
Setiap kehidupan memiliki arti. Seluruh alam ini meneriakkan rancangan Sang Gusti. Rancangan sudah pasti ada perancangnya. Tanpa adanya asumsi rancangan dalam alam, tidak mungkin akan ada ilmu pengetahuan. Seorang biologi evolusionis yang ingin menggantikan peran Allah dengan teorinya harus mengasumsikan adanya rancangan untuk menjelaskan teorinya. Sesuatu tidak mungkin berasal dari ketiadaan. Eksistensi Allah adalah bukti dari dunia itu sendiri.
Yeremia 29 : 11 “ Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaKu mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.“
Praise be to God
Sebagian diambil dari 'Reason to Believe, series of systematic theology (RC Sproul)'



