
Hari ini dan kemarin, saya dan beberapa kawan mengikuti sebuah seminar bertema ‘On the 150th of Origin Species’. Seminar ini dilangsungkan sebagai penghormatan terhadap teori Darwin yang telah berusia 150 tahun sejak dipublikasikannya. Kebersamaan, canda-tawa, dan rasa bangga menjadi hal-hal yang berkesan, namun ada satu hal dari seminar tersebut yang tertinggal dalam di benak saya yaitu inspirasi!. Inspirasi yang membuat saya ingin urun rembug dengan kawan-kawan mengenai arti penting alam di dalam mewujudkan dunia yang damai dan anti kekerasan.
Paparan yang disampaikan oleh Prof. Dr. Muhammad Soerjani (Beliau merupakan Guru Besar Emeritus Universitas Indonesia dan Direktur Institut Pendidikan dan Pengembangan Lingkungan Hidup Indonesia) di dalam seminar, membuat saya berpikir bahwa alam juga menjadi salah satu faktor yang tak terbantahkan sebagai penyebab timbulnya ‘kekerasan’. Mahatma Gandhi, sosok yang luar biasa menurut saya, beliau tidak hanya seorang sosialis yang memperjuangkan hak-hak asasi manusia namun beliau juga merupakan seorang naturalis yang peduli dampak perusakan alam terhadap lingkungan. Gandhi yang dikenal sebagai deep ecology philosopher, menyatakan kritiknya terhadap antroposentrisme yang berlebihan. Keserakahan manusia tidak hanya merusak alam namun juga sebagai tindakan ‘kekerasan’ terhadap sesamanya.
Beberapa waktu yang lalu saya membaca seorang tulisan seorang kawan, mengenai sebuah negara yang termasuk dalam penghasil kopi terbesar di dunia, namun yang menjadi ironi adalah petani tidak pernah mendapatkan jumlah keuntungan yang setimpal atas hasil kerja kerasnya, keuntungan terbesar ada pada pedagang kopi dan franchise-franchise peracik minuman kopi. Kasus lain, penebangan hutan karet secara ilegal merenggut mata pencaharian petani karet yang mengumpulkan tetes demi tetes getah karet untuk sesuap nasi bagi keluarganya, tidak sesederhana itu pohon karet memerlukan waktu puluhan tahun untuk dapat tumbuh dan tidak bisa dibayangkan berapa banyak spesies yang hilang dalam satu pohon yang ditebang. Berikutnya, kasus dalam negeri, penambangan emas di Papua tidak hanya merusak ekosistem yang ada dengan limbah yang berbahaya, tanah menjadi miskin hara, hal tersebut tentunya menyebabkan hilangnya mata pencaharian masyarakat Papua sebagai petani. Namun, apa daya mereka yang miskin tersebut? Mereka hanya dapat pasrah bagaimana diri mereka dijajah oleh sesamanya yang rakus.
Mutlak saya kira bahwa manusia adalah makhluk serakah yang tidak pernah menghargai ‘perasaan’ alam. Gandhi menyerukan ‘the Earth has enough for everyone’s need, but not for anyone’s greed’. Bumi dengan segala kekayaan alam yang sangat melimpah memastikan segalanya cukup untuk kebutuhan setiap orang, tetapi tidak akan cukup bagi mereka yang serakah. Belajar mencintai alam memang tidak mudah, namun dengan menghargai alam juga merupakan cara bagaimana kita dapat menghargai sesama kita, Mewujudkan dunia yang anti-kekerasan dan bumi sebagai tempat tinggal yang nyaman merupakan masalah multidisipliner, setiap orang memiliki tanggung jawab di dalam keterkaitannya dengan alam. Ya, Kesadaran itu dimulai dari kita!

